Rabu, 31 Juli 2013

Lalu, bagaimana bisa kita menua bersama ?

Bukankah usia hanya sebatas bentangan angka,
Lalu, mana yang tidak bisa?
Oh, iya masalahnya adalah kamu yang telah termiliki
Lalu, bagaimana bisa kita menua bersama ?
Ataukah aku yang berambisi untuk termiliki dan menua bersamamu, sedang kau telah bersama-sama menua bersamanya.
Ohh Tuhan....
**

Cara Mu menghadirkan rasa ini sungguh membuatku ngilu
Rajutan demi rajutan aku selesaikan di tiap sepertigaan malam..
Ritme-ritme acoustic lirik samar-samar aku dendangkan tapi Tuhan...upayaku tak mampu menyikut teguhnya debu kenyataan.
Lalu, bagaimana bisa kita menua bersama ?
**
Ini...yang dunia anggap air mata, ini pula yang aku anggap sebagai doa, dzikir sunyiku...
cintaku yang tiada henti-hentinya tercurah demi sebuah pinta yang tak mungkin terijabah.
Lalu, kenapa Kau menghadirkan rasa pada orang yang telah termiliki dan tak mungkin aku miliki Tuhan ?
Sedang hidupku telah ia miliki dan tak mungkin terambil lagi.
**
Sepertiga malam adalah nyanyian rinduku, bulir-bulir doa dengan timbunan rasa,
pantaskah aku berdalih berlindung dalam selimut cinta dan mengatas namakannya?
Atas debu kenyataan yang melebur menjadi samar-samar bulir embun dan air mata ini.
Lalu, bagaimana bisa kita menua bersama ?

Jarum ini tajam, Yah..benar saja memang tajam
namun hanya sepersekian detik berhasil menyakitiku, Sedang rasa ini..Ohh,
Tumpulkah atau amat tajamkah melukai relung hati dengan teramat tanpa henti
atau memang belum saatnya...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar